Tampilkan postingan dengan label exspresi kebebasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label exspresi kebebasan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Maret 2017

Balada Hati

Sekiranya dalam hal keindahan hidup cinta tidak pernah memainkan perannya, mungkin saat ini aku tidak akan terjebak dalam penghayatan yang terlalu dalam akan hadirnya dirimu di hidupku. Mungkin jika di awal cerita kita tidak ada kata cinta, saat ini mungkin kita masih duduk berdua di depan teras kosan.

Kadang aku berfikir, bisakah kita kembali? Bukan karena sesal yang ku rasakan, bukan. Hanya saja, semakin lama ku jauhkan kata "kita" dalam hidupku. Semakin aku terjerat dalam kegelapan hati. Dalam keramaian aku masih bisa bertahan, tertawa, becanda, tersenyum. Tapi dalam kesunyian aku tersesak, kekecewaan ini semakin membuatku muak.

Mungkin benar aku yang terlalu berharap, memintamu untuk mengerti akan apa yang aku inginkan. Memaksakan dirimu untuk mencoba melihat ku dengan segala kekurangan yang aku miliki.

Ahhhh, aku sudah tak tahu lagi harus seperti apa. Jujur saja menghadapi persoalan sosial, politik, dan kerja mungkin lebih aku sukai daripada harus menghadapi persoalan tentang hati.

Selasa, 07 Februari 2017

Nostalgia Konsep Dalam "Revolusi Mental"


Jika diperhatikan, negeri Indonesia ini tenggah kembali memasuki fase dimana birokrasi dan propaganda media mampu memanipulasi rakyatnya.  Bisa juga dikatakan setiap lembaga-lembaga pemerintah -yang dibawah kontrol pemerintah- berupaya mengajak kita kembali ke jaman orde baru yang dimana “sistem demokrasi pancasila” ala presiden Suharto menjadi ujung tonggak pemerintah untuk pengendalian negara.

Dewasa ini, dibawah kepemimpinan presiden Jokowi Indonesia dibawa kembali bernostalgia dengan Masa Orde baru yang dimana dengan kemasan barunya “revolusi mental”  sebagai ideologi negara telah menjadi slogan-slogan baru yang sering digembor-gemborkan lewat berbagai media sebagai solusi jitu untuk kemajuan dan keberhasilan Bangsa Indonesia menghadapi sengitnya pertarungan Globalisasi.

Dengan “Revolusi Mental” yang dirancang oleh presiden Jokowi sebagai konsep –meski masih dalam perdebatan keilmuan mengenai konsepnya sendiri- mengarahkan indonesia dalam perubahan mental secara radikal ke arah positif. Namun demikian, dalam penerapannya sendiri ”revolusi mental” nyatanya masih jauh dari yang diharapkan. Kendala-kendala krusial masih banyak mempengaruhi jalannya terapan konsep tersebut dalam setiap kebijakan pemerintahan.

Jika di flashback ke belakang, pada masa orde baru dibawah kekuasaan Presiden Suharto. Indonesia mengalami masa dimana jika dilihat dari segi hubungan antara pemerintah sebagai penyelenggara negara dan rakyat mengalami kesenjangan dan ketidak-harmonisan diberbagai lini kehidupan. Hal ini terjadi tidak lain karena konsep terapan demokrasi terpimpin yang oleh pemerintah kala itu di anut malah mengalami pergeseran konsep dan terapan yang sangat signifikan.

Walaupun demikian, saya pribadi masih berharap adanya terobosan-terobosan hebat dari presiden di sisa masa bakti beliau, terlepas digunakan tidaknya kembali “revolusi mental” sebagai dasar ideologi negara. Mengingat urgensi yang tengah dihadapi negeri indonesia ini, tanpa juga melukai kemanusian dan Hak Manusia untuk hidup dan berkembang. Indonesia kelak mampu kembali menjadi negara yang mandiri, berdikari, dan terlepas dari jeratan-jeratan Globalisasi.

Senin, 03 Oktober 2016

Belajar berpolitik

Saya adalah orang yang tidak pernah tertarik pada dunia politik. Entah kenapa bagi saya politik itu kotor, lumpur yang kotor. Tetapi disisi lain, pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan berpolitik. Lobi lobi bahkan sudah di ajarkan pada saat kita masih balita. Iya memang betul manusia tidak bisa lepas dari berpolitik.

Dari sini saya memiliki pemikiran, apa sebenarnya politik itu. Kenapa politik menjadi bagian mendasar pada kehidupan manusia sebagai individu. Apakah ada politik yang sebenar-benarnya. Dan kemana sebenarnya arah politik itu sendiri. Apakah ia itu berdampak baik atau sebaliknya. Apakah kita bisa berlepas dari berpolitik.

Belakangan, diperusahaan tempat saya bekerja terjadi konflik politik antara manajemen perusahaan dan SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Entah kenapa kali ini saya begitu tertarik untuk menelaah konflik yang tengah terjadi itu. Begitu kompleks terlihat dari pandangan saya yang sebagai orang awam akan ilmu politik, begitu membuat saya semakin ingin memperdalam keilmuan saya akan ilmu politik.

Apa itu politik? Sebenarnya politik memiliki banyak definisi, hal ini di karnakan esensi politik sebagai bagian dari pola kehidupan bermasyarakat masih bisa berkembang. Tetapi kita bisa mengutip dari berbagai sumber yang ada, seperti yang saya kutip dari wikipedia indonesia.

Politik (dari bahasa Yunani: politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara), adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.
Jika dilihat dari definisi diatas saya dapat mengartikan politik adalah sebuah kegiatan yang terpola sedemikian rupa baik untuk membentuk kelas-kelas kekuasaan, pembagian kewenangan dan kekuasaan, berupa kegiatan kegiatan yang disandarkan pada pengambilan keputusan baik yang dilakukan secara bermusyawarah maupun dengan cara penunjukan wewenangan dan tanggung jawab kekuasaan.

Pada perkembangan manusia sebagai makhluk sosial, politik mengambil peran penting dalam kegiatan kegiatan kelompok(organisasi). Politik sekiranya tak akan berlepas dari segala kegiatan manusia sebagai individu-individu yang saling ketergantungan satu sama lain. Dalam keluarga misalnya, seorang ayah dalam setatus sosialnya adalah kepala keluarga. Tetapi dalam kedudukan politik sang ibu adalah kepala keluarganya. Kenapa? Karena, kegiatan-kegiatan dalam (organisasi)keluarga kebanyakan sang ibu lah yang berperan dalam pengambilan keputusan.

Sekiranya jika politik itu ditiadakan maka tiada pula sebuah peradaban manusia, karna manusia yang pada dasar tidak bisa berlepas dari berpolitik.
Lalu apa politik itu bisa dikatakan benar atau tidaknya, bersih atau kotornya, jika politik itu sendiri masih memiliki banyak persepsi dalam pengartian terutama dari persepsi masyarakat awam?

Sebenarnya politik mendasari pada hakikat manusia, dalam diri manusia politik, dan atau berpolitik, dan atau ilmu politik memiliki pola kegiatan berfikir yang berbeda-beda yang juga mendasari politik itu sendiri akan menjadi seperti apa nantinya. Diarahkan kemana tiap kegiatan dan pengambilan keputusan politiknya . Dan jika di telaah lebih dalam maka kita akan menemukan kebaikan dalam arah kita memandang segala bentuk kegiatan politik.

Jujur saja, tulisan saya kali ini hanya bersifat opini. Opini ini muncul dari ketidak nyamanan saya akan keadaan politik di lingkungan kerja. Jika dulu saya memandang politik adalah kotor, lumpur yang kotor. Hari ini pun saya masih berpendapat demikian. Hanya saja mungkin jika dulu saya hanya berdiam melihat segala kegiatan politik, kali ini saya mengambil keputusan yang berbeda.

Sefaham logika saya, Politik akan baik buruknya itu tergantung dari kita sebagai makhluk politiknya. Jika benar terjadi politik kotor, konflik politik, kebijakan politik yang tak berimbang dilingkungan kita. Sudah semestinya kita yang termasuk dalam individu-individu politik ikut turun andil dalam perbaikan-perbaikan untuk pembenahan politik yang ada. Agar arah politik nya mampu kembali ke arah yang seharusnya. Dan semua individu-individu politik didalamnya tidak ada yang dirugikan.

Senin, 31 Agustus 2009

Bangkit Pemuda Pemudi Bangsa!!!!

hai pemuda bangsa!!!
hai pemudi baangsa!!
hai anak anak bangsa....
hai semua, misi misi numpang lewat.. hehe :-P
Selamat datang di blog saya.
Sebenarnya sudah lama saya bikin blog ini, tapi ga ke urus dan baru sekarang saya mau bener bener serius nge-blog. (Walau masih galau mau ngapain.. hehe *plak!!!)
Untuk permulaan dan sebagai perkenalan saya mau berbagi puisi (ga jelas sih sebenernya ini puisi atau bukan) yang sudah saya posting di blog ini dari jaman saya kelas 1 SMA dulu. Mudah mudahan ga ada yang nimpuk saya pake sendal jepit.. hehe
Oke dah, Dan tanpa basa basi mari silahkan membaca puisi ini sambil ngopi ngopi ngemil ngemil juga boleh dah.. :-)
Hai pemuda pemudi bangsa
Pernahkah kau terengah
Pernahkah kau terkejut
Pernahkah kau menangis
Menangisi bumi pertiwi yg kini terlahap habis
Terlahab habis oleh keserakahan
Terlahab habis oleh ketamakan
Terlahab habis oleh keegoisan
ketamakan orang orang terhormat negri ini
Hai pemuda pemudi bangsa
Pernahkah kita berfikir
Pernahkah kita merenung
Merenung akan nasib ibu pertiwi
Merenung akan nasib negeri ini yang semakin menjadi jadi
Sadarkah hai pemuda pemudi bangsa
Sadarkah kita?
Sadarkah kita yang masih terjajah
Kita masih yang terpasung?
Terjajah di negeri sendiri
Terpasung oleh birokrasi oknum oknum demokrasi
Iya.. Demokrasi yang hanya bisa bunuh rakyat
Demokrasi yang hanya bisa bikin cepat mati rakyat
Apanya yang demokrasi
Apanya yang dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat
Mana hidup sejahtera itu?
Dimana hidup yg terjanjikan Undang undang itu?
Apakah demokrasi hanya sekedar obral janji
Obral janji sana sini memikat hati kami
Hak suara kami
Apakah semurah itu hak kami atas suara ini?
Kemana larinya bukti bukti itu
Yang dahulu kalian janjikan untuk kehidupan kami
Mana buktinya hai anda anda pemimpin
hai pemuda pemudi bangsa
Sampai kapan akan diam
Diam melihat pemerkosa pemerkosa itu
Masih akankah kita diam melihat perampok perampok  bumi pertiwi itu
Sadarkah hai pemuda pemudi bangsa
Kita ini masih terjajah
terjajah oleh 'tikus tikus got' dinegeri sendiri
Terjajah oleh 'anjing anjing lapar' dinegeri sendiri
Bangkitlah hai pemuda pemudi bangsa
Tunjukanlah baktimu untuk ibu pertiwi
Tunjukanlah cintamu untuk bangsamu sendiri
Bangkitlah!
Bangkit hai pemuda pemudi bangsa!
Jangan biarkan kita ikut membunuh bangsa ini dengan diam
Bangkitlah!
Bangkitlah pemuda pemudi bangsa Indonesia!
Nah bagus tidak puisinya kira kira.....???:-P hehe
intinya, buat kita kita yang ngaku anak bangsa. Ayo bangkit!!.. Ayo buat perubahaan!!.. Jangan biarin tuh para 'koruptor, mafia, oknum' yang ada disenayan sana pada makan enak. Bikin mereka biar pada mikir, bikin mereka biar pada tahu klo kita yang jadi anak bangsa ini ngga bakal tinggal diem ngeliat nasib ibu pertiwinya yg diperkosa habis.
Banyak hal yang bisa kita lakukan, inget banyak hal!! Apapun bisa kita lakukan untuk sebuah perubahan walaupun itu hanya setitik pasir di pantai sekalipun.
Cukup sekian dah postingan dari saya semoga menginspirasi.. (walau ga jelas ini blog ma postingannya apaan.. hehe)
Salam hangat dari saya si "bloger pemula". :-)